Tlp SekarangWA Sekarang
Menjelajah Keistimewaan di Kampung Inggris

Kampung Inggris via kampunginggris.id

 

Definisi Kampung

Ketika mendengar istilah kampung biasanya terbayang di dalam pikiran terkesan yang tradisional, original, terpencil, Apalagi gagap teknologi karena tidak tersentuh kemajuan zaman. Masyarakat di kampung juga biasanya berkomunikasi menggunakan bahasa daerah untuk mengangkat khasanah budaya di daerah masing-masing.

Misalnya, kampung di wilayah Jawa Barat mayoritas menggunakan bahasa sunda atau terdapat beberapa kampung di wilayah Sumatera yang menggunakan bahasa melayu.

Kampung Inggris

Di Indonesia, terdapat satu kampung di Provinsi Jawa Timur yang berkomunikasi tidak menggunakan bahasa daerah, bahasa Indonesia, tetapi menggunakan bahasa asing. Kampung yang terletak di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur ini menggunakan bahasa inggris untuk bertukar pesan. Bukan karena kampung ini diduduki oleh warga asing, tetapi karena di kampung ini telah berjamur lembaga kursus bahasa asing.

Maka dari itu tidak heran, jika masyarakat mengenal kampung ini dengan sebutan “Kampung Inggris”. Keunikan ini tidak hanya berhasil menarik perhatian masyarakat tingkat lokal saja, tetapi sampai ke tingkat nasional bahkan Internasional.

Sejarah Kampung Inggris

Kampung Inggris terbentuk secara tidak sengaja. Berawal dari satu orang saja bernama Kalend Osen, yang merupakan penduduk pribumi. Kalend Osen mulanya ingin belajar bahasa asing dari KH Ahmad Yazid di Pare yang menguasai delapan bahasa asing. Maka dari itu dia mulai tinggal dan belajar di Pesantren Darul Falah, Desa Singgahan, milik Ustadz Yazid. Sampai pada suatu hari, Kalend diminta untuk mengajarkan bahasa inggris secara rutin kepada dua orang mahasiswa untuk ujian Negara di kampusnya, sampai berhasil dalam berbahasa inggris.

Keberhasilan keduanya kemudian menjadi “trending topic” di kampusnya, yang mengakibatkan mahasiswa berlomba-lomba ingin belajar bahasa inggris dengan Kalend. Kejadian tersebut kemudian melahirkan kelas pertama. Sekitar tahun 1990-an, banyak alumninya yang didorong untuk membuat lembaga kursus dan lambat laun lembaga kursusnya semakin bertambah jumlahnya. Saat ini telah berdiri sekitar 114 lembaga kursus. Mulai tahun 2000-an, para investor dari luar kota juga mulai melirik potensi yang ada dengan turut mendirikan lembaga kursus.

Wisata di Kampung Inggris

Tidak hanya belajar bahasa asing secara rutin, Kampung Inggris juga menghadirkan destinasi wisata sebagai sarana refreshing bagi siswanya setelah enam hari hanya berkutat dengan materi bimbingan. Diantaranya, Garuda Park dan alun-alun. Di sana berdiri tugu garuda sebagai simbol Kampung Pare. Di tempat ini pengunjung bisa menghabiskan malam sambil menikmati jajanan yang dijajakan oleh pedagang di sekitar alun-alun. Kemudian sekitar 40 menit-an menggunakan sepeda dari Kampung Inggris terdapat Candi Surowono dan Goa Surowono.

Destinasi budaya ini mengenalkan peninggalan sejarah Hindu. Candi ini cukup kecil, namun tetap menarik untuk dikunjungi. Destinasi lain yang tidak kalah menarik, yaitu Monumen Simpang Lima Gumul. Berkunjung ke monumen ini seakan-akan berada di Paris karena arsitekturnya mirip dengan Arc de Triomphe di Paris, Perancis. Simpang Lima Gumul sendiri merupakan pertemuan lima jalan yang menuju lima daerah di Kediri yakni Gampengrejo, Pagu, Pare, Pesantren dan Plosoklaten. Namun, untuk menuju monumen ini pengunjung dari Kampung Inggris harus menempuh jarak yang cukup menghabiskan waktu karena lokasinya berada di luar Kecamatan Pare.

Keistimewaan Kampung Inggris

Saat ini bahasa inggris menjadi bahasa yang diakui oleh masyarakat internasional. Keberadaan Kampung Inggris yang menawarkan destinasi bimbingan bahasa ikut berkontribusi dalam mempersiapkan bangsa menghadapi persaingan global. Manusia Indonesia sebagai aset bangsa dituntut untuk memiliki kualitas berdaya saing internasional. Kemampuan berbahasa asing, terutama bahasa inggris menjadi kemampuan yang mutlak untuk dikuasai.

Di sisi lain, dari segi ekonomi mayoritas masyarakat Indonesia berada pada level menengah ke bawah. Sedangkan biaya untuk mengikuti kursus bahasa seringkali tidak terjangkau. Kondisi ini mengakibatkan, kemampuan penguasaan bahasa asing hanya dimiliki oleh sebagian masyarakat yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Berdasarkan kondisi tersebut, keberadaan Kampung Inggris sedikit banyak sudah mengatasi persoalan ini, karena biaya yang ditawarkan relatif terjangkau dengan proses yang tidak jauh berbeda dengan lembaga kursus yang beroperasi di kota-kota besar. Sayangnya, kampung serupa Kampung Inggris hanya berada di Kecamatan Pare.

Masyarakat di luar Pulau Jawa yang berminat meningkatkan kemampuan bahasa asingnya di Kampung Inggris terbatas oleh akses dan biaya operasional. Ke depannya, destinasi bahasa yang ditawarkan oleh Kampung Inggris diharapkan dapat lebih bervariasi, tidak hanya bahasa inggris tetapi juga bahasa asing lainnya dengan tetap memelihara kearifan lokal Kampung Inggris sendiri.

Inovasi teknologi juga dituntut agar masyarakat yang memiliki kesulitan masuk dapat ikut berpastisipasi sebagai peserta bimbingan. Keberhasilan Kampung Inggris menciptakan “rasa” internasional yang dapat menjadi role model bagi kampung lain dalam mengidentifikasi keunikan kampung dan “menjualnya” kepada publik, bahkan dunia.

 

 

Dari berbagai sumber