Tlp SekarangWA Sekarang

Bagi seorang muslim, berinvestasi di instrumen yang halal merupakan salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan. Sebab melalui investasi dengan sistem syariah, maka investor akan terhindar dari jeratan riba yang haram.

Reksa dana

Reksa dana via investasisyariah.info

Saham syariah menjadi salah satu cara yang bisa Anda lakukan untuk menginvestasikan dana yang dimiliki dan mendapatkan keuntungan yang diinginkan. Jika dilihat secara definisi, maka saham memiliki arti sebagai penyertaan modal yang dilakukan oleh seseorang atau institusi dalam sebuah perusahaan publik. Saham termasuk surat berharga dan menjadi bukti kepemilikan yang sah seseorang terhadap sebuah perusahaan.

Jika Anda ingin melakukan investasi di pasar saham syariah, maka Anda bisa melakukan investasi tersebut sama seperti bertransaksi di saham konvensional. Hal yang perlu Anda lakukan adalah datang ke salah satu perusahaan sekuritas dan kemudian memilih salah satu jenis saham syariah yang Anda sukai.

Berikut ini pembahasannya lebih lanjut

Cara Investasi di Saham Syariah

  1. Anda Harus Mengenali Saham yang Ingin Dibeli

Saham merupakan instrumen investasi yang penuh dengan resiko dan perlu Anda perhatikan dengan baik sebelum memulai. Saat Anda menanamkan dana ke instrumen saham, maka akan ada resiko yang akan Anda hadapi pada saham yang ditanamkan. Oleh karena itu, sebagai investor yang cerdas, Anda perlu mengetahui dengan baik seluk beluk saham yang Anda inginkan sebelum membeli saham syariah di perusahaan sekuritas.

Anda bisa mengecek saham syariah di Daftar Efek Syariah yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan atau OJK.

Melalui daftar yang diterbitkan tersebut, Anda bisa dengan mudah mengetahui perusahaan apa saja yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah di pasar modal.

Secara umum,ada 2 jenis Daftar Efek Syariah yang diterbitkan yaitu bersifat periodik dan diterbitkan pada bulan Mei atau November dan bersifat insidentil yang tidak berkala.

  1. Pastikan Saham yang Anda Pilih Melakukan Praktik Bisnis yang Halal

Jika Anda sudah mengetahui daftar emiten saham yang masuk dalam kategori syariah, maka langkah selanjutnya adalah mengecek ketepatan emiten tersebut. Anda harus memastikan dengan baik bahwa perusahaan yang Anda pilih terbebas dari praktik yang bertentangan dengan ajaran islam.

Perusahaan atau Emiten yang masuk dalam kategori syariah memiliki syarat tertentu yang perlu diperhatikan dengan baik oleh Investor.

-Pertama, Anda perlu memastikan bahwa jenis usaha, produk, atau jasa tidak berseberangan dengan prinsip syariah yang ada.

-Kedua, pihak emiten perlu menandatangani dan memenuhi ketentuan akad syariah yang sesuai dengan prinsip syariah.

-Ketiga, pihak emiten perlu memiliki Syariah Compliance Officer (SCO) yang menjelaskan prinsip syariah yang dianut oleh perusahaan. SCO merupakan pejabat yang bertugas pada lembaga atau perusahaan yang memiliki sertifikasi dari Dewan Syariah Nasional-MUI sebagai tanda bahwa ia memahami dengan baik konsep syariah di pasar modal.

  1. Datang Ke Perusahaan Sekuritas yang Anda Percayai

Jika Anda sudah mengetahui dengan baik apa saja perusahaan yang masuk dalam kategori syariah, maka langkah selanjutnya adalah mendatangi perusahaan sekuritas yang Anda percaya. Salah satu ciri perusahaan Sekuritas yang bisa dipercaya adalah sudah diakui oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Perusahaan Sekuritas seperti inilah yang bisa Anda gunakan untuk menginvestasikan dana ke saham syariah yang telah dipilih.

Perusahaan Sekuritas biasanya akan memberikan penjelasan secara rinci dan lengkap berkaitan dengan perusahaan atau emiten yang akan Anda beli. Perhatikan dengan baik setiap penjelasan yang mereka sampaikan dan jangan ragu untuk bertanya hal-hal yang belum Anda pahami kepada mereka.

Jika Anda sudah menjatuhkan pilihan, maka saatnya mengisi formulir yang diperlukan untuk berinvestasi saham di emiten syariah.

Pahami Resiko dan Keuntungan yang Bisa Anda Dapatkan Pada Saham Syariah

Pembahasan selanjutnya berkaitan dengan potensi resiko dan keuntungan yang bisa Anda dapatkan saat berinvestasi saham syariah. Memahami resiko dengan baik merupakan sebuah langkah bijak yang perlu Anda lakukan sebagai seorang investor. Paham dengan resiko atas investasi yang dilakukan bisa meminimalisir potensi kerugian yang akan didapatkan.

Potensi Keuntungan Investasi Saham Syariah

Investasi syariah

Investasi syariah via maxmanroe.com

  1. Mendapatkan Capital Gain

Keuntungan dari capital gain bisa Anda dapatkan saat terjadi selisih antara harga beli saham dan harga jual saham. Saat harga jual saham lebih tinggi dibandingkan dengan harga beli saham, maka Anda telah mendapatkan capital gain. Selisih dan pergerakan harga saham dari sebuah perusahaan bisa terbentuk dari aktivitas perdagangan di bursa saham.

Contoh sederhananya seperti ini, jika Anda membeli saham perusahaan A dengan harga per lembar Rp 10.000. Kemudian beberapa bulan kemudian harga saham per lembar dari perusahaan A telah naik menjadi Rp 10.700. Jika Anda menjual saham yang Anda miliki pada kondisi harga yang demikian, maka Anda telah mendapatkan capital gain sebesar Rp 700 per lembar saham.

  1. Pembagian Dividen Kepada Para Pemegang Saham

Memiliki saham sebuah perusahaan artinya Anda memiliki sebagian dari kepemilikan pada sebuah perusahaan. Dengan demikian Anda berhak untuk mendapatkan pembagian keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan. Pembagian keuntungan perusahaan yang diberikan kepada para pemegang saham inilah yang dimaksud dengan dividen.

Sebelum dividen dibagikan kepada pemegang saham, maka jumlah dividen tersebut akan terlebih dahulu diusulkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Pahami Juga Potensi Resiko Investasi Saham Syariah

Selain keuntungan, Anda juga perlu memahami dengan baik potensi resiko saat akan berinvestasi saham di perusahaan konvensional atau syariah. Berikut ini beberapa potensi resiko yang perlu Anda waspadai dengan baik sebagai seorang investor.

  1. Adanya Potensi Capital Loss

Capital Loss merupakan istilah yang berkebalikan dengan capital gain yang telah kami jelaskan sebelumnya. Saat Anda mendapatkan capital loss, maka Anda mendapatkan kerugian dari selisih harga beli dan jual saham. Hal ini terjadi saat Anda menjual saham dengan harga yang lebih rendah dibandingkan dengan harga pembelian.

Contoh sederhananya seperti ini, Anda memiliki saham di perusahaan X dengan harga beli saham pada saat itu Rp 8.500 per lembar sahamnya. Beberapa bulan setelah Anda membeli saham terjadi penurunan harga menjadi Rp 7.900 per lembar saham. Investor yang khawatir dengan harga yang akan terus menurun akan menjual saham yang dimiliki. Dengan demikian, ia akan mendapatkan capital loss sebesar Rp 600 per lembar saham yang dijual.

  1. Tidak Selalu Mendapatkan Dividen

Hal yang perlu Anda pahami dengan baik adalah sebuah dividen akan dibagikan kepada para pemegang saham jika perusahaan mampu menghasilkan keuntungan. Dengan demikian, saat perusahaan menderita kerugian tidak akan ada dividen yang akan dibagikan kepada para pemegang saham. Pembagian dividen kepada para pemegang saham sangat ditentukan oleh kinerja sebuah perusahaan.

Bukan cuma kinerja perusahaan saja yang menjadi tolak ukur apakah perusahaan akan membagikan sebuah dividen. Pembagian dividen juga ditentukan melalui Rapat Umum Pemegang Saham atau RUPS. Jika mayoritas pemegang saham tidak setuju untuk melakukan pembagian dividen, meskipun perusahaan menghasilkan keuntungan tidak akan ada dividen yang dibagikan. Alasan tidak dibagikannya dividen ketika untung adalah perusahaan ingin ekspansi atau melebarkan jangkuan bisnisnya. Ekspansi bisa dengan cara menambah aset, inventaris, atau membuka cabang baru.

  1. Saham Beresiko Mendapatkan Suspend

Saham yang mendapatkan suspend merupakan sebuah saham yang perdagangannya dihentikan oleh Otoritas Bursa Efek. Saat ini terjadi investor tidak bisa melakukan penjualan saham yang dimilikinya sampai status suspend dicabut oleh pihak otoritas.

Jangka waktu suspend sangat bervariasi, bisa dalam waktu yang sangat singkat yaitu 1 hari atau bisa juga sampai beberapa hari perdagangan.

Ada beberapa faktor yang membuat saham sebuah perusahaan diberhentikan sementara perdagangannya oleh pihak otoritas bursa. Bisa karena harga saham yang naik atau mengalami penurunan yang luar biasa dalam waktu yang singkat. Atau karena perusahaan tersebut dipailitkan oleh pihak kreditor, bisa juga karena perusahaan tersebut tidak memberikan laporan keuangan sampai batas waktu yang ditentukan.

  1. Perusahaan Dikeluarkan dari Pencatatan Bursa/ Delisting

Resiko selanjutnya berkaitan dengan saham perusahaan yang dikeluarkan dari pencatatan bursa efek atau delisting. Dikeluarkannya saham perusahaan dari pencatatan bursa bisa karena kinerja yang buruk. Kinerja yang buruk bisa karena kerugian yang dialami selama beberapa tahun atau dalam kurun waktu tertentu tidak pernah dipedagangkan.

Namun, perusahaan yang melakukan delisting tidak selamanya menunjukkan kinerja yang buruk.  Bisa jadi perusahaan yang keluar dari pencatatan bursa efek dikarenakan tujuan Go Private. Saat ini terjadi, maka perusahaan tersebut akan melakukan pembelian kembali untuk setiap saham yang diterbitkannya.

  1. Perusahaan Bangkrut dan Dilikuidasi

Di saat sebuah perusahaan telah dinyatakan bangkrut oleh pengadilan, maka perusahaan tersebut akan dibubarkan.  Saat ini terjadi, maka dampaknya akan terjadi pada para pemegang saham.

Berdasarkan peraturan pencatatan saham, seluruh kewajiban yang dimiliki oleh perusahaan harus mendapatkan prioritas dan perlu dilunasi terlebih dahulu oleh perusahaan. Sedangkan hal klaim dari para pemegang saham akan mendapatkan prioritas yang terakhir.

Saat aset yang dimiliki oleh sebuah perusahaan dijual dan masih terdapat sisa, maka sisa itulah yang akan dibagikan secara adil kepada para pemegang saham. Saat tidak ada sisa kekayaan dari sebuah perusahaan, maka para pemegang saham tidak akan mendapatkan apa-apa.

Melihat cukup banyak resiko yang akan Anda temui di pasar saham, maka sebagai investor, Anda perlu untuk mengamati perkembangan perusahaan yang Anda miliki sahamnya.

Mengenal Lebih Dekat Investasi Saham Syariah yang Bisa Anda Perdagangkan

Mengenal investasi syariah

Mengenal investasi syariah

Saham syariah merupakan sebuah pilihan terbaik yang bisa dipilih oleh para muslim yang ingin berinvestasi di perusahaan yang sesuai dengan nilai-nilai agama Islam. Saham syariah memiliki beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan saham konvensional yang diperdagangkan di bursa efek Indonesia.

Kali ini kami akan membahas secara lengkap kriteria saham syariah dan apa yang membedakannya dengan saham konvensional yang ada di bursa efek Indonesia.

  1. Perusahaan Sejalan Dengan Prinsip Syariah yang Berlaku

Perbedaan pertama yang membedakan saham syariah dengan saham konvensional adalah jenis emiten yang bisa dibeli. Jika Anda menganut sistem konvensional, maka Anda bisa membeli saham apapun yang memiliki prospek yang baik dan menarik.

Hal seperti di atas tidak berlaku di saham syariah, dimana ada beberapa perusahaan yang tidak bisa dibeli dikarenakan bertentangan dengan syariat Islam. Sebagai contohnya, Anda tidak boleh membeli saham di perusahaan yang secara jelas menjual barang yang haram seperti Alkohol. Selain itu, sebuah perusahaan juga perlu menjalankan usahanya dengan konsep ajaran Islam yang benar.

  1. Adanya Sistem Bagi Hasil

Saat Anda menginvestasikan uang pada perusahaan syariah, maka Anda tidak akan mendapatkan keuntungan berupa bunga atau riba. Sistem yang berlaku dan diterapkan adalah pembagian hasil. Dengan menggunakan sistem ini, para pemegang saham tidak hanya mendapatkan keuntungan dari perusahaan, tetapi juga memiliki resiko yang sama saat perusahaan menderita kerugian.

Saat sebuah perusahaan mendapatkan keuntungan, maka Anda akan mendapatkan pembagian keuntungan dalam jumlah tertentu. Begitu juga saat perusahaan sedang merugi, maka Anda akan ikut menanggung kerugian yang diderita oleh perusahaan.

  1. Musyawarah Saat Untung dan Rugi

Pada saham syariah, berbagai hal yang berkaitan dengan keuntungan dan kerugian harus disepakati saat Anda akan mendaftarkan saham. Pemegang saham dan perusahaan perlu melakukan musyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama. Dengan adanya kesepakatan, maka pemegang saham akan terlepas dari informasi yang menyesatkan dan resiko yang berlebihan dari investasi yang dilakukannya.

Saat akan melakukan sebuah kesepakatan, maka perusahaan wajib menjelaskan setiap informasi yang berkaitan dengan perusahaannya. Pemegang saham perlu mengetahui dengan jelas seluk beluk perusahaan agar tidak ada kesalahpahaman. Penjelasan berkaitan dengan perusahaan akan dijelaskan oleh perusahaan sekuritas yang menjual saham perusahaan tersebut.

  1. Rasio Keuangan yang Perlu Dipenuhi

Jika dilihat dari laporan keuangan, maka sebuah emiten yang masuk dalam kategori syariah memiliki rasio keuangan tertentu yang perlu dipenuhi. Pertama pendapatan tidak halal harus kurang dari 10% dari total pendapatan. Serta rasio hutang yang dimiliki harus berdasarkan hitungan tertentu dan telah ditetapkan oleh Otoritas Syariah. Jika sebuah perusahaan mampu masuk kedalam kriteria yang telah disebutkan di atas, maka perusahaan tersebut bisa digolongkan sebagai saham syariah.

Saham syariah yang ada di bursa efek Indonesia bisa Anda lihat didalam DES (Daftar Efek Syariah) yang selalu diperbaharui setiap periode. Dengan adanya daftar ini, Anda tidak akan kesulitan untuk mendapatkan saham syariah yang akan dibeli.

Sekian informasi dari saya kurang lebihnya mohon maaf, semoga dapat menjadi reverensi bagi anda yang ingin berinvestasi atau semacamnya